Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Minimalis: Kesederhanaan Hidup dalam Al-Qur’an

minimalis
Sumber: https://www.jojonomic.com

Di tengah maraknya fenomena hedonisme di masyarakat, prinsip hidup minimalis dinilai menjadi solusi. Potret hidup hedonistik di dunia virtual hari ini cukup mengkhawatirkan. Secara tidak langsung mendorong pertumbuhan gaya hidup user pengguna berbagai platform media sosial. Hidup dengan uang berlimpah, pola hidup konsumtif, dan mewah dalam penampilan menjadi indikatornya.

Hal yang kemudian kontras dengan fakta bahwa mereka yang mendambakan hidup serba ada, tidak semua berkemampuan secara finansial. Untuk menghindarinya, ditawarkan sebuah konsep hidup ala kadarnya atas apa yang dimiliki seseorang. Orang menyebutnya dengan gaya hidup minimalis. Seakan menjadi angin segar, gaya hidup tersebut kemudian menjadi tren kekinian di tengah masyarakat.

Falsafah Gaya Hidup Minimalis

Mengutip dari KBBI daring, definisi gaya hidup berarti pola tingkah sehari-hari segolongan orang di dalam masyarakat. Sedangkan kata minimalis berarti berkenaan dengan penggunaan unsur-unsur yang sederhana dan terbatas untuk mendapatkan efek atau kesan yang terbaik (kbbi.web.id, 2023).

Atas definisi di atas, mengandung arti bahwa setiap hidup seseorang mengandung gaya hidup tertentu. Hal-hal yang berkenaan dengan sikap, nilai-nilai, hingga cara pandangnya membentuk pola tersendiri di dalam masyarakat. Gaya hidup berarti prinsip yang mengandung sikap dan nilai-nilai di dalamnya. Sedangkan hidup sederhana diwakili kata minimalis dalam bahasa kekiniannya.

Sehingga hidup minimalis berarti hidup seseorang yang tidak berlebihan. Di kali lain, minimalis berarti sederhana dengan rasa syukur juga tidak merasa kekurangan. Rasa serba cukup membangun kecenderungan bagaimana seseorang bersikap efisien dan efektif terhadap apa yang dimilikinya.

Kesederhanaan dalam Al-Qur’an

Tidak berlebihan juga menjadi salah satu ajaran al-Qur’an yang tidak terbantahkan. Dengan tegas Allah melarang berlebih-lebihan dalam makan, minum, dan kebutuhan pokok berpakaian (QS. al-A’raf [7]: 31). Ibnu Katsir memberi ruang makna لَا تُسْرِفُوا dengan arti tidak berlebihan sebagai sikap sederhana dan meniadakan rasa sombong (Ibnu Katsir, 1996: 3/407).

Baca Juga  Pemaknaan Ulul Albab dalam Pendekatan Semantik Toshihiko Izutsu

Menjalani hidup minimalis berarti menerapkan sebuah konsep bagaimana seseorang mengelola cara berpikir, cara kerja, dan berikut cara hidupnya. Boleh disebut bila gaya hidup demikian mengartikulasikan anti hedonitas yang kini marak diikuti kaum milenial. Namun, kita tidak sedang membincangnya lebih jauh saat ini.

Dikatakan bahwa masyarakat urban memang lebih biasa dikenal hedonis. Namun demikian, bukan tak mungkin mereka bisa mengurangi bahkan menghindarinya. Mereka berpeluang menjadi aktor utama hidup minimalis bila berhasil mengutamakan kesederhanaan sebagai pola hidupnya.

Hidup minimalis disebut sebagai cara hidup serba efisien, ringan, praktis, dan penuh kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan, bersikap efektif dan efisien atas apa yang dimiliki. Tanpa kemudian harus merasa kekurangan saat melihat apa yang dimiliki orang lain. Secara sederhana, minimalis berarti mengerti tentang mana yang menjadi kebutuhan dan hal lain yang menjadi keinginan kita.

Sikap Sederhana Merefleksikan Gaya Hidup Minimalis

Ajaran hidup sederhana sangat identik dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. Hidup sederhana dalam arti hidup secara seimbang dalam hal apapun. Tidak berlebihan karena merasa cukup untuk mengantarkan dalam rasa syukur nikmat yang dimiliki. Bahkan dalam satu hadis dikatakan bahwa kesederhanaan menjadi bagian dari iman (HR. Abu Daud).

Dengan kesederhanaan tersebut, hidup menjadi bersahaja, tidak berlebihan dalam banyak aspek kehidupan. Sebab, sikap sederhana lebih mementingkan rasa syukur atas nikmat yang diperolehnya. Apa yang telah dimiliki menjadi satu pendorong bagaimana rasa syukur lazim diutamakan daripada mengeluh untuk sesuatu yang tidak ada.

Sederhana juga mengindikasikan arti merasa cukup atas segala sesuatu. Tidak melihat orang yang lebih tinggi darinya. Juga tidak merasa kekurangan atas apa yang dimilikinya. Sebagai implikasinya, kesederhanaan melatih diri untuk mengerti arti bersyukur dan menikmati apa yang ada. Tanpa mengeluh dan menyebut hal lain yang tidak mungkin ada saat itu juga.

Rasulullah SAW bersabda: “Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu dan jangan kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu. Karena yang demikian itu lebih pantas agar kamu semua tidak menganggap sepele nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu.” HR. Bukhari Muslim

Boleh dikatakan bila sederhana berkenaan dengan sebuah cara pandang dalam hidup seseorang. Cara menerima atas anugerah yang dimiliki dengan penuh rasa syukur menjelma dalam sifat qana’ah. Seseorang yang menerima apa adanya akan cenderung hidup tenang dan bahagia karena rasa syukurnya.

Baca Juga  Urgensi Ilmu sebagai Basis Dakwah: Perspektif Abduh dan Rasyid Ridha

Menikmati apa yang menjadi milik sendiri lebih utama daripada berangan-angan hal yang tidak mungkin ada. Serta dalam kesempatan lain tidak berkeinginan memenuhi sesuatu atas dasar tren dan kekinian semata.

Kemampuan mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan hidup ini merupakan implementasi sifat zuhud. Apa yang menjadi kebutuhan lebih utama daripada sekedar menuruti nafsu keinginan semata. Sebab, zuhud secara maknawi berarti lebih mengutamakan akhirat meskipun tanpa melupakan kehidupan duniawi.

Mengutamakan Prinsip Wajar dan Keseimbangan

Penjelasan di atas senada dengan firman Allah,

وَٱلَّذِینَ إِذَاۤ أَنفَقُوا۟ لَمۡ یُسۡرِفُوا۟ وَلَمۡ یَقۡتُرُوا۟ وَكَانَ بَیۡنَ ذَ ٰ⁠لِكَ قَوَامًا [سُورَةُ الفُرۡقَانِ: ٦٧]

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” QS. al-Furqan [25]: 67

Kata الإنفاق di atas, tidak kemudian semata-mata infak harta yang berarti sedekah. Penulis dalam hal ini lebih cenderung memilih makna membelanjakan atau menggunakan harta. Mengutip Ibnu Katsir, bahwa arti dari لَمْ يَقْتُرُوا merupakan bentuk pembelanjaan yang tidak boros. Tidak besar pasak daripada tiang. Dalam hal memberi juga tidak bakhil (Ibnu Katsir, 1997: 6/124).

Sebagai bentuk kewajaran pembelanjaan harta tersebut mengutamakan prinsip keseimbangan. Tidak mubazir hingga menghabiskan harta. Tidak pula kemudian berat untuk memberikan sedekah kepada mereka yang papa. Di sinilah letak kewajaran yang berarti seimbang menggunakan harta berupa rizki maupun anugerah dari Allah.

Dapat diambil kesimpulan bahwa kesederhanaan mengandung hidup minimalis seperti diajarkan dalam Islam. Hidup minimalis sebagai prinsip menanamkan sikap sederhana dengan menyertakan nilai-nilai religius untuk menjalani hidup sehari-hari. Sebagai implikasinya, kebahagiaan hidup menjadi jaminan bagi mereka yang pandai menerima dengan penuh rasa syukur dan mampu memberi tanpa rasa kikir.

Baca Juga  Islam dan Wirausaha: Meraih Keuntungan Dunia dan Akhirat

Semuanya harus tetap dalam taraf wajar dan keseimbangan sebagaimana al-Qur’an dan Sunnah telah ajarkan. Apa yang menjadi milik disyukuri dan dinikmati. Tidak memiliki bukan berarti tidak cukup dan merasa kekurangan. Karena semua itu didasarkan apa yang menjadi kebutuhan bukan semata-mata nafsu keinginan. []