Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Lima Ayat Dalam Menghadapi Ujian Hidup

Sumber: istockphoto.com

Dalam menjalani kehidupan, seorang muslim terlebih yang sudah memasuki masa dewasa tentu mengalami berbagai musibah dan ujian yang datang bergantian. Terlebih di usia dewasa muda yang merupakan awal dari aktifnya fungsi otak untuk berpikir. Sehingga banyak orang yang mengalami stress hingga menghadapi frustasi berat ketika mulai memasuki usia ini.

Dalam Islam tentu diajarkan pula tentang beberapa cara; yang bisa dilakukan ketika seorang muslim menghadapi berbagai problematika yang cukup berat dalam kesehariannya. Perlu menjadi catatan pula bahwa stressnya seorang muslim tidak selalu menandakan bahwa dirinya sedang jauh dari Allah. Melainkan terkadang justru menjadi penanda bahwa keimanannya sedang dalam fase yang kuat.

Sebagaimana yang dikutip dalam kitab al-Faraj Ba’da asy-Syiddah karya at-Tanukhi. Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan bahwa seorang muslim yang sedang ditimpa musibah; selayaknya tidak melupakan lima ayat yang di dalamnya terkandung lima ucapan dzikir yang perlu diingat dan dibaca oleh seorang muslim ketika menghadapi problematika kehidupan. Karena dalam kelima ayat ini terdapat keutamaan khusus bagi yang mengucapkannya.

Tentu saja dalam menghadapi masalah, upaya yang dilakukan oleh seorang muslim modern tidak sebatas membaca doa dan dzikir saja. Melainkan juga upaya yang rasional dan logis perlu dilakukan. Akan tetapi dalam bersikap yang rasional dan logis membutuhkan ketenangan yang didapatkan dalam dzikir dan doa. Sehingga upaya yang diambil tepat dan tidak asal terburu-buru.

Kalimat Pertama

Dalam surat Al-Baqarah ayat 155-157, yang bermakna, “Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, kelaparan, dan kekurangan dari harta, jiwa dan buah-buahan, maka berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka berucap ‘inna lillahi wa inna ilayhi raaji’uun’ (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali). Maka untuk merekalah doa keselamatan dari Rabb mereka dan juga rahmat-Nya dan merekalah orang-orang yang diberi petunjuk”.

Kalimat “inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun” sudah cukup populer di kalangan umat Islam Indonesia karena selalu akrab dengan berita duka. Walaupun sebenarnya kalimat ini merupakan kalimat yang diucapkan ketika seorang muslim menghadapi musibah, baik itu kematian sanak saudara, kehilangan sesuatu dan yang semisalnya. Seperti yang disebutkan dalam ayat sebelumnya : ketakutan dan kekurangan jiwa (psikologis), kelaparan (biologis), dan kekurangan harta dan buah-buahan (ekonomis). 

Baca Juga  Tafsir Akhlaqi: Memahami Ayat-Ayat Akhlak

Kalimat Kedua

Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 173-174 yang bermakna; “(dan merekalah) orang-orang (yang ketika) sekelompok orang mengatakan pada mereka; ‘sesungguhnya (para musuh) telah berkumpul untuk (menyerang) kalian maka takutlah pada mereka’; maka justru keimanan mereka bertambah dan mereka (orang-orang beriman itu) mengucapkan ‘hasbunallah wa ni’mal wakiil’(cukuplah Allah sebaik-baik tempat berserah). Maka mereka (orang-orang beriman itu) kembali dengan kenikmatan dari Allah dan banyak keutamaan; mereka juga tidak disentuh dengan keburukan, mereka juga mengikuti keridhaan Allah, dan Allah-lah Yang Maha Memiliki Kemuliaan Yang Agung”.

Kalimat berikutnya adalah “hasbunallah wa ni’mal wakiil”, sekalipun asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan peperangan pada saat itu, dalam konteks pengucapannya juga bisa dilakukan ketika seorang muslim menghadapi masalah yang bertumpuk, kesulitan yang terbilang sangat sulit untuk diselesaikan. Karena inti makna kalimat ini adalah penyerahan diri dan kekhawatiran kepada Allah.

Kalimat Ketiga

Dan Allah berfirman, “dan aku serahkan urusanku ini kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (kondisi) hamba-Nya. Maka Allah lindungi dirinya dari segala keburukan dari apa yang dimakarkan oleh mereka (musuh)..” yang terdapat dalam surat  Ghafir ayat 44 dan 45.

Ayat ini mengkisahkan sekelompok pendakwah yang menghadapi kaumnya yang tidak suka dengan ajakan yang disampaikan. Dalam mengajak pada kebaikan tentu penentangan adalah suatu hal yang biasa ditemui. Muslim secara umum juga perlu menyerahkan urusannya pada Allah ketika dirinya menghadapi orang-orang yang tidak suka dengan dirinya, sekalipun bukan hanya dalam bidang dakwah saja, dalam bidang pekerjaan sehari-hari misalnya.

Kalimat Keempat

Ayat keempat ini mengisahkan seorang nabi mulia yang sempat merasakan putus asa dalam menghadapi kaumnya; yang kemudian memutuskan untuk pergi dan ketika berlayar ke sebuah tempat, sebuah pertimbangan berat menjadikannya harus memilih untuk diterjunkan ke laut lepas karena kapalnya kelebihan muatan.

Baca Juga  Refleksi Milad Setahun Perjalanan Tanwir.Id

Dikisahkan dengan indah dalam surat Al-Anbiya ayat 87 dan 88, “dan Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika pergi dengan marah dan merasa bahwa dirinya tak mampu lagi (dalam menghadapi kaumnya), maka dirinya berdoa di tengah gulitanya perut ikan paus ‘laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimin’ (tiada sesembahan kecuali Engkau, maha suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim). Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dirinya dari keterpurukan, dan begitulah Kami selamatkan orang-orang beriman”.

Dalam kehidupan bukan tidak mungkin seorang muslim menghadapi kondisi serupa : sudah tenggelam di laut lepas, diombang-ambingkan badai, ditelan pula dalam problematika yang sempit dan membuat hidup serasa gulita. Sebuah kondisi yang begitu terasa sangat sulit jika banyak manusia sekalipun berusaha menolong tapi mereka tetap tidak mampu. Maka doa Nabi Yunus adalah sebuah pilihan yang bisa diambil.

Kalimat Kelima

Terakhir, firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 148 dan 149, “dan tiadalah yang diucapkan mereka kecuali ‘rabbanaghfirlana dzunubana wa israfanaa fii amrina wa tsabbit aqdamana wanshurna ‘alal qaumil kaafirin’(wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang berlebihan  dalam urusan kami dan kuatkanlah pijakan kaki kami dan menangkanlah kami atas orang-orang kafir). Maka Allah datangkan pada mereka pahala dunia dan sebaik-baik pahala akhirat dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

Sebuah doa memohon ampunan atas dosa dan sifat berlebihan dalam sebuah urusan; sekaligus permintaan untuk diberi kemampuan bertahan dalam menghadapi masalah sekiranya sangat perlu dilafalkan seorang muslim dalam menghadapi kondisi yang mencekam dalam fase hidupnya.

Editor: An-Najmi

Seorang yang memiliki minat di bidang sejarah, dakwah dan pendidikan Islam. Memiliki keseharian sebagai peneliti dan penulis di ketiga bidang yang menjadi minatnya. Monggo, silaturrahmi di media sosialnya.