Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dunia Bak Permainan, Akhirat adalah Tujuan: Tafsir QS Al-Ḥadīd: 20

Dunia
Sumber: id.pinterest.com

Di era digital saat ini, kehidupan manusia kerap tampak seperti sebuah permainan. Ada tingkatan yang ingin diraih, target yang harus dicapai, serta pencapaian yang ingin diperlihatkan kepada orang lain. Tidak sedikit orang berlomba mengejar karier, popularitas, jumlah pengikut di media sosial, hingga pengakuan dari sesama manusia. Semua itu sering dipandang begitu penting, seakan-akan itulah tujuan utama kehidupan.

Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir manusia. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ḥadīd [57]: 20:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.[1]

Ayat tersebut bukan berarti melarang manusia untuk hidup nyaman, bekerja, atau menikmati berbagai kenikmatan dunia. Namun, ayat itu menjadi peringatan agar manusia tidak terpedaya oleh gemerlap dunia yang sifatnya sementara.

Dunia: Permainan yang Bisa Melalaikan

Dalam Tafsir al-Munīr, Wahbah al-Zuḥailī menjelaskan bahwa kata la’ib berarti sesuatu yang tidak mengandung faedah, sedangkan lahw adalah sesuatu yang membuat manusia lalai dari perkara penting dan berguna bagi kehidupan.[2] Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa persoalan dunia bukan terletak pada dunia itu sendiri, melainkan pada sikap manusia dalam memandang dan menjalankannya.

Baca Juga  Sederhana dalam Hidup Perspektif Buya Hamka

Seseorang boleh bekerja keras, mengejar pendidikan, bahkan menikmati hiburan. Akan tetapi, ketika semua itu membuat manusia lupa terhadap tujuan hidup, melupakan ibadah, dan mengabaikan akhirat, maka dunia telah berubah menjadi sesuatu yang melalaikan.

Fenomena ini sangat terasa dalam kehidupan modern. Media sosial sering menjadikan hidup seperti arena kompetisi tanpa akhir. Orang berlomba terlihat paling sukses, paling kaya, paling menarik, atau paling terkenal. Ukuran kebahagiaan pun sering bergeser menjadi angka dan pencapaian duniawi, seperti jumlah likes dan followers, kedudukan, jabatan, dan harta. Padahal, semua itu bersifat sementara.

Kemegahan Dunia yang Tidak Abadi

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa manusia kerap membanggakan pangkat, jabatan, kedudukan, kekayaan, dan keturunan. Padahal, pada hakikatnya manusia tidak benar-benar memiliki kuasa atas semua itu. Segala kenikmatan dunia dapat hilang kapan saja.[3]

Hamka juga menafsirkan perumpamaan dalam ayat tersebut seperti hujan yang menumbuhkan tanaman hingga tampak subur dan indah. Namun, tidak lama kemudian tanaman itu menguning, layu, dan akhirnya hancur. Begitu pula kehidupan dunia: pada awalnya tampak memikat, tetapi pada akhirnya akan sirna.[4]

Perumpamaan ini sangat relevan dengan kondisi manusia masa kini. Banyak orang menilai dirinya berdasarkan keberhasilan duniawi. Ada yang merasa mulia karena jabatan, bangga karena kekayaan, bahkan merasa gagal hanya karena tertinggal dari orang lain. Padahal, seluruh hal yang bersifat duniawi pada akhirnya akan ditinggalkan. Popularitas akan memudar, jabatan dapat berganti, dan harta tidak akan dibawa setelah kematian.

Dunia sebagai Sarana Menuju Akhirat

Meski demikian, Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menegaskan bahwa kehidupan akhirat sangat ditentukan oleh bagaimana manusia menjalani kehidupan dunia. Oleh sebab itu, dunia tetap memiliki nilai dan arti yang penting. Menurut beliau, dunia merupakan arena untuk membuktikan kebenaran bagi mereka yang memahami hakikat kehidupan. Ia juga menjadi tempat manusia mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Dengan demikian, dunia bukan untuk dijauhi, melainkan dimanfaatkan dengan benar dan bijaksana.[5]

Baca Juga  Tafsir QS. Thaha 131-132: Kiat-kiat Melewati Fase Quarter Life Crisis

Pandangan ini penting agar ayat tersebut tidak dipahami secara keliru. Islam tidak mengajarkan sikap anti terhadap dunia. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk bekerja, belajar, berkarya, dan membangun kehidupan. Namun, seluruh aktivitas itu seharusnya diarahkan untuk meraih rida Allah Swt.

Karena itu, persoalan utamanya bukan pada dunia, tetapi ketika ia dijadikan tujuan utama hingga membuat manusia melupakan akhirat. QS. Al-Ḥadīd ayat 20 mengajak manusia untuk melakukan refleksi mendalam agar hidup tidak habis hanya demi mengejar sesuatu yang fana. Manusia boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai tenggelam di dalamnya. Boleh memiliki harta, tetapi jangan diperbudak olehnya. Boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai melupakan ibadah dan hubungan dengan Allah Swt.

Pada akhirnya, kehidupan memang terasa seperti permainan dengan berbagai tantangan dan pencapaiannya. Namun, seorang Muslim harus menyadari bahwa permainan ini memiliki tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tempat kembali. Karena itu, jalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, nikmati dunia secukupnya, dan jangan pernah melupakan tujuan akhir kehidupan.


Catatan Kaki

[1] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Edisi Penyempurnaan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), 798.

[2] Wahbah Al- Zuḥailī, Al-Tafsīr Al-Munīr Fī Al-‘Aqīdah Wa Al-Sharī’Ah Wa Al-Manhaj Al-Mujallad Al-Rābi’ ’Ashar (Damaskus: Dār al-Fikr, 2009), 345.

[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid 9 (Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 2001), 7184–85.

[4] Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid 9, 7186.

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbāh: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an Volume 14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 39.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID