Masalah Ekosistem
Di zaman yang sangat maju ini yang ditandai dengan semakin canggihnya teknologi dan komunikasi yang semakin mudah, ada sebuah konsekuensi yang harus dibayar yaitu masalah pada ekosistem. Tak jarang alat-alat canggih dan kendaraan menimbulkan polusi. Dengan itu kemudian meningkatlah kerusakan ekosistem di bumi.
Beberapa negara industri memberi bantuan dana untuk restorasi hutan pada Indonesia. Norwegia misalnya, pada tahun 2010 mereka membuat kesepakatan pada pemerintah Indonesia apabila Indonesia bisa menjaga hutan dan kabutnya, mereka akan membayar 14 triliyun rupiah dan sepuluh tahun kemudian pada tahun 2020 Norwegia membayar 800 milyar rupiah pada pemerintah indonesia. Karena dianggap berhasil melakaukannya.
Selain pada pemerintah beberapa negara industri lain juga bekerja sama dengan pihak swasta. Seperti negara Jerman yang bekerjasama dengan perusaahan swasta yang yang fokus pada masalah restorasi ekosistem di Indonesia.
Negara-negara maju yang rata-rata penduduknya adalah oaring-orang yang berpendidikan tinggi dan hebat sadar akan pentingnya ekosistem. Mereka memikirkan masa depan bumi akan seperti apa bila ekosistem di bumi ini rusak. Salah satu unsur ekosistem yang paling fundamental adalah air. Jika air tercemar maka ekosistem akan terancam.
Sungai dalam Al-Quran
Kitab suci Al-Qur’an yang turun pada abad ke-7 Masehi banyak menyinggung tentang air yang divisualisasikan dalam bentuk sungai maupun awan. Sungai misalnya, dalam surat Al-Buruj ayat 11, Allah mengatakan akan memberi janji pada siapa yang beriman dan melakukan amal soleh berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dalam hal ini sungai bisa disebut dengan gambaran keadaan di dalam surga.
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Buruj Ayat 11)
Dalam pengertian sederhana, sungai adalah kumpulan air yang bergerak menjadi sebuah aliran yang mengalir di atas permukaan bumi. Umumnya sungai terbentuk karena proses alami. Akan tetapi di zaman yang semakin maju sungai bisa dibentuk oleh rekayasa manusia dengan tujuan tertentu.
Lalu mengapa al-Qur’an menjadikan sungai sebagai indikator surga? Apakah keistimewaannya?
Memahami ayat-ayat-Al-Qur’an memang memerlukan suatu pendekatan atau metode tafsir. Lalu bagaimana jika memahami ayat tentang sungai tersebut dengan menggunakan pendekatan semiotika strukturalis Ferdinand de Saussure?
Semiotika Ferdinand de Sausure
Ferdinand de Dausure adalah ahli Bahasa yang Lahir di Swiss tepatnya di kota Jenewa pada 26 November 1857. Ia merupakan ahli bahasa dan semiotika. Semiotika merupakan sebuah model ilmu pengetahuan dalam memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan “tanda”.
Sausure menyatakan bahwa ia membayangkan suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam masyarakat. Di dalamnya dipelajari apa saja tanda-tanda itu dan apa kaidah-kaidah yang mengaturnya dan ilmu tersebut dinamai dengan semiotika. Sedangkan ilmu linguistik merupakan bagian kecil dari ilmu umum itu.
Seacara singkat semiotika Ferdinand De Sausure tentang semiotik terdiri atas beberapa pasangan yang beroposisi. Tanda dikatakan mempunyai dua sisi sebagai dikotomi, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Ucapan individu (parole) dan bahasa umum (langue), sintagmatik dan paradigmatik, diakroni dan sinkroni.
- Penanda-Petanda
Signifier (penanda) adalah sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra dan pikiran, seperti bunyi, gambar, atau coretan. Sedangkan signified (petanda) adalah makna yang terungkap melalui konsep, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung di baliknya.
- Langue-Parole
Langue adalah sistem bahasa yang digunakan secara kolektif dan disepakati oleh semua pengguna bahasa serta menjadi panduan praktik berbahasa dalam masyarakat. Sedangkan parole adalah praktik bahasa dari tutur individu di suatu masyarakat dalam waktu/ kondisi tertentu
- Sinkronik-Diakronik
Sinkronik adalah telaah bahasa yang mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan diakronik adalah mempelajari bahasa secara terus menerus selama bahasa masih digunakan
- Sintakmatik-Paradigmatik
Relasi sintakmatik terjadi ketia sebuah tanda tidak bisa dipertukarkan satu sama lain. Krena maknanya sangat berbeda. Sedangkan relasi paradigmatik terjadi ketika suatu tanda bisa dipertukarkan. Karena meskipun memiliki makna yang berbeda tetapi memiliki satu paradigma.
Semiotika Sungai dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa sebagai media merupakan lahan yang subur bagi kajian semiotika. Dalam al-Qur’an terdapat tanda-tanda yang memiliki arti yang dapat dikaji dengan menggunakan semiotika. Dengan demikian, semiotika al-Qur’an dapat didefinisikan sebagai cabang ilmu semiotika yang mengkaji tanda-tanda yang ada dalam al-Qur’an dengan menggunakan konvensi-konvensi yang ada di dalamnya. Al-Qur’an memiliki satuan-satuan dasar yang dinamakan dengan ayat.
Tanda dalam al-Qur’an tidak hanya bagian-bagian terkececil dari unsur-unsurnya, seperti: kalimat kata atau huruf,. Tetapi totalitas struktur yang menghubungkan masing-masing unsur termasuk dalam kategori tanda al-Qur’an. Hal ini menunjukan bahwa seluruh wujud al-Qur’an adalah serangkaian tanda-tanda yang memiliki arti.
Salah satu objek kajian yang menarik adalah tentang sungai. Dalam Al-Qur’an Allah selalu memberikan gambaran surganya dengan menggunakan sungai yang mengalir. Konsep semiotika Ferdinand De Sausure bisa menjadi alat pendekatan yang cocok untuk menafsirkan makna dari hal tersebut. Dengan menggunakan salah satu metode di atas, yaitu signifier dan signified, kita bisa menelusuri apa makna sebenarnya yang terkandung dalam gambaran sungai tersebut.
Ada sekitar 20 ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut tentang sungai dan banyak diantara ayat-ayat tersebut dibarengi dengan kalimat yang isinya tentang balasan untuk orang yang beriman dan melakukan kebaikan. Salah satu contoh ayatnya adalah Qur’an surah al-Buruj ayat 11:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Buruj Ayat 11)
Signifier Sungai
Unsur yang pertama kali terlihat dari sungai adalah air di mana air adalah gabungan dari satu molekul oksigen dan dua molekul hidrogen yang menjadi satu komponen yang sangat penting di dalam kehidupan. Sungai adalah kumpulan dari air yang bergerak menjadi sebuah aliran yang mengalir di atas permukaan bumi. Ada banyak jenis sungai jika dikaji lebih mendalam.
Signified Sungai
Taka bisa dipungkiri jika sungai menjadi tampat favorit yang digunakan orang untuk berlibur atau hanya sebatas melepas penat. Di Jakarta misalnya, di hari libur weekend. kota Bogor menjadi salah satu alternatif mereka untuk berlibur selain banyak sport sungai yang jernih di sana juga banyak air terjun yang indah. Juga beberapa kota besar di dunia menjadikan kotanya sebagai “surga” bagi penduduknya setelah melakukan revitalisasi dari kondisi sungainya.
Belanda dan beberapa negara di benua Eropa memiliki sungai yang terawat dengan baik. Sehingga menjadi indah dan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Merlbourne juga kota yang dilintasi oleh sungai yang dirawat dan dijaga dengan baik.
Seoul juga memiliki sungai yang dilakukan revitalisasi selama puluhan tahun, dan sekarang sudah menjadi sungai yang indah dan cantik. Sebelum direvitalisasi sungai tersebut nampak kotor dan rusak, dan hanya berfungsi sebagai tempat pembuangan saja. Sayangnya di Indonesia revitalisasi sungai jarang berhasil, khhususnya di Jakarta.
Seiring dengan revitalisasi sungai tersebut, kemudian tumbuh berbagai sistem kota yang baik. Sistem pemerintaan yang baik tumbuh karena kepemimpinan dan sistem manajemen yang baik pula. Sebaliknya juga begitu, kepemimpinan dan sistem manajemen yang baik akan mendorong tata kelola dan sistem pemerintahan yang baik kemudian tumbuh kemampuan dalam merawat dan mendayagunakan sungai. Sehingga terjadi hubungan resiprokal antara kepemimpinan dan sistem manajerial, tata kelola dan sistem pemerintahan dengan kualitas sungai.
Di dunia hal ini telah dicontohkan oleh negara-negara dan kota-kota yang telah mampu mengelola sungai dengan baik, sebagaimana kota-kota yang telah disebutkan di atas. Sedangan secara ideal telah dicontohkan dalam Al-Quran sebagaimana gambaran dari surga.
Pemilihan Sungai Sebagai Indikator Surga
Kiranya memang sangat benar kalau Al-Quran menggambarkan sungai sebagai salah satu indikator surga. Kenyataannya untuk membuat sungai bagus, dan bermanfaat tidak hanya berkaitan dengan sungai itu sendiri, tetapi juga berkaitan dengan banyak hal. Pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, tentu juga sains dan teknologi. Untuk membuat sungai bersih, perlu dilakukan proses pendidikan kepada seluruh masyarakat.
Selain aspek tersebut, aspek geografis pada masa turunya al-Quran bisa berpengaruh pada mengapa Allah memilih sungai untuk gambaran surga. Al-Qur’an diturunkan wilayah Jazirah Arab yang wilayahnya merupakan padang pasir yang panas.
Untuk menggambarkan ke masyarakat setempat ketika itu bahwa ada suatu tempat yang sangat indah dan diliputi berbagai macam kenikmatan luar biasa. Kontras sekali dengan wilayah Jazirah Arab pada saat itu yang kering kerontang dari hamparan padang pasir sungai sangat cocok untuk menjadi sebuah magnet dari surga.
Keistimewaan surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya digambarkan Allah SWT dalam hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, “Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh suatu balasan (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati.” (HR Bukhari).
Penyunting: M. Bukhari Muslim



























Leave a Reply