Islam tidak mengenal dikotomi dalam ilmu. Hampir semua sarjana muslim secara bulat menyepakati, bahwa Islam tidak sekedar agama dalam pengertian ajaran ritual semata, akan tetapi juga merupakan jalan hidup yang sempurna, suatu peradaban dan kebudayaan yang canggih. Pemikir-pemikir Islam serentak menolak sains sekuler-liberal Barat yang diklaim bebas nilai, penyumbang penting atas degradasi kemanusiaan di era modern. Untuk itu, para pemikir Islam menawarkan model jalan keluar menurut perpektif Islam, yang memang berbeda dengan corak pemikiran mainstream Barat pada umumnya.
Model Pemurnian Ajaran Islam: Model Kodifikasi dan Integrasi
Menurut Kuntowijoyo ada dua model respon umat Islam dalam rangka menjaga kemurnian Islam atau seruan kembali pada agama Allah atau cara bagaimana nilai normatif tersebut menjadi operasional dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, model kodifikasi, yaitu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan ini telah dikembangakan melalui ilmu fikih. teologis yang bersifat literal, normatif, dan tidak membawa perubahan bagi umat, yakni model dekodifikasi (penjabaran) dan model Islamisasi pengetahuan, model dekodfikasi dapat dilihat dari cara-cara penjabaran Al-Qur’an dan Hadits kedalam ilmu-ilmu tafsir, tasawuf dan fiqih, artinya model ini dari teks ke teks.
Di Indonesia model ini dapat dilihat sebagai contoh dalam kodifikasi kitab kuning yang dijadikan sebagai rujukan untuk berpikir, berkata, dan berbuat, sisi positifnya relasi antar teks kemurnianya terjaga. Sifat negatifnya adalah menimbulkan. Pertama, involutif yakni hormat yang berlebihan pada guru, tidak berpikir analisis, tertutupnya pintu ijtihad. Kedua, sifat negative ekspansif, yakni hal-hal yang bukan agama dianggap sebagai agama hal ini menimbulkan masalah khilafiyyah yang di Indonesia mengalami polarisasi atau diktomisasi kaum santri dan kaum abangan, atau kaum tradisional dan kaum modernis.
Profetik Merupakan Bagian dari Pemikiran Integratif
Profetik merupakan salah satu pendekatan dalam memahami kandungan ayat-ayat Al-Quran pendekatan ini lebih fokus pada aspek yang bersifat empiris, historis dan temporal. Model pendekatan ilmu sosial profetik berupaya memahami kandungan ayat-ayat Al-Quran secara langsung tanpa melewati tafsir formal, berupa mengungkap makna-makna dalam kandungan Al-Quran lewat pendekatan ilmu. Menjadikan Al-Quran sebagai paradigma, untuk memahami realitas, Al-Quran mengkonstruksi realitas, karena itu perlunya dikembangkan tafsir sosial struktur melebihi tafsir individu, mengubah cara pandang dari subjektif ke objektif, mengubah pemahaman dari ahistoris ke historis, merumuskan formula-formula wahyu dari yang umum menjadi spesifik dan empiris.
Ilmu sosial profetik merupakan perubahan nama dari ilmu sosial transformasi, hal ini untuk mensudahi perdebatan kelompok dekodifiksi dan kelompok transformasi tentang makna teologi dalam Islam. Selain itu, profetik juga merupakan varian lain dari pemikiran integratif antara ilmu dan agama, model dekodifikasi, model Islamisasi, dan lain-lain. Profetik juga merupakan sebuah kritik atas ilmu moden yang terjangkit virus liberalisme dan sekulerisme. Menurut Kuntowidjoyo, syarat untuk melalukan integrasi dan objektifikasi diperlukan gerakan demistifikasi atau kesadaran ummat, bergerak dari era mitos, idiologi ke era ilmu (ide).
Saatnya umat menuju masayarakat ide (ilmu), dan harus segera meninggalkan era mitos dan idologisasi. Kuntowidjoyo menyatakan, orang Islam perlu melihat realitas melaui Islam, dan menggali eksistensi humaniora dalam Al-Qur’an, dan pelunya Al-Qur’an sebagai teks dihadapkan pada realitas ilmiah (dari teks ke konteks). Adanya pengakuan faktor manusia, Kuntowidjoyo kemudian membagi kandungan Al-Qur’an menjadi tiga yaitu ayat-ayat qaulyah, qauniyah, dan nafsiyah. Ayat Nafsiyah menurut Kuntowidjoyo merupakan ayat yang membahas ilmu humaniora.
Profetik Kritik Atas Ilmu Sosial Sekuler
Ilmu Sosial Profetik merupakan kritik atas bangunan ilmu sosial khususnya dan sistem pengetahuan pada umumnya hasil konstruksi peradaban Barat umumnya yang cenderung sekuler, liberal serta nihil atas nilai kebenaran sejati, sembari bersembunyi dibalik klaim objektifitas dan netralitas ilmu. Ilmu sekuler sekarang tidak bisa menyelesaikan masalah, dan telah terjangkit virus liberalisme.
Syaed Huesein Nasr yang menawarkan untuk segera dilakukan pergeseran paradigma, dengan cara merombak cara pandang atau asumsi atas Alam dan menawarkan filsafat kosmologi tradisional, melihat Alam sebagai sesuatu yang bersifat sakral, suci, dan menuju jalan Tuhan. Menurut Hussein Nasr, dalam Islam suatu ilmu memiliki hierarki, yang diintegrasikan dalam prinisp-prinsip tauhid.
Ilmu sosial profetik merupakan salah satu dari varian pemikiran tentang integrasi ilmu dan agama, selain model islamisasi (reaktif dan responsive) dan kodifikasi (involutive dan ekspansive). Profetik juga merupakan kritik atas ilmu sosial-humaniora yang sekuler. Ilmu sosial profetik berupaya menjadikan agama (wahyu) sebagai basis transformasi subjektif dan sosial ummat, sebuah pemikiran yang menjadikan agama sebagai basis ilmu dan teori, dengan jalan objektifikasi (tidak langsung begitu saja menerapkan hukum agama). Dalam usaha menjadikan Islam sebagai paradigma, ilmu dan teori dengan jalan internalisasi dan objektikasi tersebut, profetik membangun metode struktur transeden, wahyu menempati piramida tertinggi dalam struktur. Menggunakan pendekatan sintetik dan analitik, ilmu termasuk hukum diarahkan pada misi etik emanispasi humanisasi, liberasi dan transedensi.
Editor: An-Najmi Fikri R
























Leave a Reply