Sebelum membahas prinsip sustainability dan kaitannya dengan ayat Al-Qur’an, berikut ayat yang berkaitan.“Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan ayat-ayat (sebagai peringatan) Al-Qur’an kepadamu, karena kamu kaum yang melampaui batas” (Q.S. Az-Zukhruf: 5)
Tema lingkungan adalah tema yang saat ini banyak dikaji oleh para ilmuwan di berbagai disiplin ilmu. Di berbagai belahan dunia, tema lingkungan memang mendapat perhatian khusus bahkan dikajii secara mendalam. Para pakar dari beragam disiplin ilmu mencoba mengkaitkan dengan pembahasan tema lingkungan.
Hingga munculah banyak teori, seperti theo-ecology, eco-phylosophy, eco-phsycology, eco-feminism dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa kajian tentang lingkungan menarik untuk dikaji. Selain itu, fakta tersebut membuktikan bahwa problematika lingkungan bukanlah aspek yang berdiri sendiri (tunggal) melainkan dampak dari hubungan yang berkelindan.
Bila menilik kembali pada Al-Qur’an, maka akan dijumpai ayat-ayat yang membahas tentang lingkungan. Namun belum banyak kajian yang lebih intensif sekaligus sistematis, sehingga cara pandang Islami ini belum teraplikasi sempurna dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, terdapat beberapa ulama yang telah memberi sumbangsih pandangan pada isu lingkungan. Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah Said Nursi dengan karya populernya, Rasa’il Nur.
Deep Ecology
Teori lingkungan yang cukup banyak diminati belakangan adalah deep ecology. Deep ecology lebih mengarah kepada filsafat lingkungan atau kearifan lingkungan. Konsep ini berupaya untuk mengatur seluruh aktifitas manusia agar selaras dengan alam (eco wisdom). Para ilmuwan berpendapat bahwa secara holistik, alam dan manusia terdapat hubungan yang saling terkait. Pandangan ini menghasilkan keyakinan bahwa tidak hanya hanya manusia yang bernilai, non-human (hewan, tumbuhan, alam) juga memiliki nilai.
Asal usul munculnya kata deep ecology (ekologi dalam) adalah bantahan dari teori shallow ecology (ekologi dangkal) yang menganggap alam tidak memiliki nilai. Deep ecology berkeyakinan bahwa alam memiliki nilai spiritual. Pendapat ini terinspirasi dari budaya ketimuran yang seringkali melibatkan alam dalam ritual tradisi di masyarakat. Penganut paham deep ecology menolak adanya tindakan sewenang-wenang manusia terhadap alam (antroposentris).
Prinsip Keberlanjutan (Sustainability)
Dalam beberapa tahun terakhir kata Sustainable sering muncul dalam berbagai perbincangan. Sistem sustainability atau keberlanjutan ini menjadi populer sejak 2015. Dalam forum internasonal, PBB membuat agenda besar yang dikenal dengan SDGs (Sustainable Development Goals). Sustainable adalah upaya makhluk hidup untuk bertahan di berbagai kondisi. Selain itu, sustainable bisa dimaksudkan kemampuan manusia untuk mencukupi keperluan hidupnya tanpa mengganggu sumber daya milik generasi setelahnya. Maka bisa dikatakan bahwa sustainability adalah prinsip yang berkeadilan dan berkeadaban. Manusia hari ini tidak mengambil ‘jatah’ manusia lain di hari esok.
Sifat berkeadilan dan berkeadaban itu bukanlah ajaran yang asing bagi umat Islam. Dalam Al-Qur’an Allah mengingatkan manusia untuk tidak egois, mengambil hak orang lain, hingga melampui batas ketentuan-Nya. Apabila manusia jujur, maka sumber daya alam hari ini sangatlah cukup untuk memenuhi keperluan umat manusia hari ini. Maka ketika hari ini kita masih jumpai manusia yang tidak mendapat haknya, maka itu menandakan ada manusia lain yang tidak menunaikan kewajibannya. Pun ketika ada manusia yang berlebih-lebihan dalam mengambil sumber daya, itu juga bisa menandakan bahwa dia sedang mengambil hak orang lain setelahnya. Umat Islam perlu lebih peduli terhadap hal ini dengan memegang prinsip sustainability.
Solusi Islam
Dari dua tema sebelumnya –deep ecology dan sustainability– kita menjadi optimis bahwa cara hidup Islam adalah cara hidup sempurna nan mencerahkan. Menurut Moh. Ishom Mudin, Islam sangat beradab dengan lingkungan, bahkan dalam Al-Qur’an ayat-ayat kauniyah lebih banyak daripada ayat-ayat ahkam. Richard Foltz, seorang ilmuwan barat pun mengakui bahwa Islam dengan worldview nya merupakan solusi dari krisis global yang terjadi saat ini. Mary Evely yang juga seorang pakar lingkungan berpendapat bahwa perspektif Islam tentang alam sangat modern dan dinamis. Dia juga menyebut bahwa konsep yang dibawa Islam tidaklah bersifat angan-angan, melainkan konkret.
Dalam mengejawantahkan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan, umat Islam tidaklah kekurangan panutan. Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik teladan. Banyak hadits yang menggambarkan betapa mulianya Rasulullah dalam berinteraksi dengan hewan, tumbuhan, alam. Kedua pakar tersebut seyogyanya cukup sebagai perenungan tentang keberadaan posisi umat Islam dalam memandang problematika zaman ini. Sejauh mana umat Islam menjadikan kitab sucinya sebagai pedoman, sejauh mana umat Islam menjadikan Nabinya sebagai teladan.
Meneladani Rasulullah
Rasulullah menjadi jalan bagi kita untuk mendapat cinta Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 31 yang berbunyi: “katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Umat Islam wajib mengikuti cara Rasulullah dalam mengelola air, sanitasi, menjaga kelestarian alam, memperbaiki ekosistem, hingga menjadikan alam sebagai sarana ibadah.
Alam semesta ini adalah ayat yang wajib kita perhatikan, nikmati dan syukuri. Alam ini menjadi sarana bagi kita mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah). Segala aspek yang ada baik materi maupun non-materi kiranya mampu mengantarkan kita pada semakin kuatnya keimanan dan ketaqwaan pada Zat Yang Maha Esa. Sehingga ilmu atau hikmah yang telah kita tangkap melalui beragam sarana tercermin pada peningkatan kualitas ibadah pada-Nya. Ibadah tidaklah sebatas ritual keseharian, namun juga amal kebajikan sebagai wujud dari pengenalan dan kecintaan terhadap Allah SWT.
Ayat yang ada di awal mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an tidak akan pernah berhenti menjadi cahaya petunjuk. Al-Qur’an tidak akan membiarkan sahabat dan pecintanya untuk tersesat. Dia akan senantiasa menjadi motor keimanan yang menggerakkan manusia beramal kebaikan. Lalu membimbing dan mendidik pecintanya untuk tidak berbuat kesia-siaan apalagi perbuatan melampui batas ketetapan. Kemudian akan mengiringi dan membersamai disaat tidak ada lagi perkara yang tersembunyi. Dia akan meng-syafaati setiap mahluk yang terus mencari dan kembali.
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Hud:112)

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.