Zaman semakin berkembang di industry 4.0 yang tentunya diikuti dengan perkembangan media sosial. Media sosial yang berbagai macam bentuknya merupakan bentuk dari perkembangan teknologi. Perkembangan tersebut tentu banyak manfatnya jika dimanfaatkan sebaik mungkin.
Apa yang pertama kita pegang ketika bangun tidur? HP? Apa yang pertama dibuka? WhatsApp? Kebanyakan manusia sedang hidup di zona gerak cepat ketika ada notif di ponsel tapi gerak lambat ketika azan berkumandang. HP terus dikantongi ketika keluar rumah. Beli makanan sambil nunggu makanan siap, yang dibuka HP, ngobrol dengan orang yang jauh di sana lewat medsos. Makanan sudah siap tinggal disantap, foto dulu, posting dulu tinggal sedang makan balas komentar orang. Kalau komentar orang lain tidak sesuai ekspetasi kita, bawa perasaan, marah, badmood padahal harusnya bisa biasa saja karena kita tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain tapi kita mampu mengendalikan pikiran diri sendiri.
Berdoa di Media Sosial
Media sosial akhir-akhir ini tak jarang menjadi tempat sambat setiap. Allah sendiri sudah membukakan jalur komunikasi lewat berdoa. Bahkan Abi Quraish Shihab pernah berkata pada acara Mutiara Hati “ Berdoa merupakan salah satu cara manusia berkomunikasi dengan Allah. Lewat doa, niscaya permintaan setiap hambanya akan dijabah oleh Allah SWT.”
Terkadang kita terlalu menceritakan semuanya ke manusia tapi lupa mendetailkannya ke Allah. Padahal Allah Maha Mendengar lagi Maha Penyayang. Kita juga sering luput, Allah sudah menutupi rapat-rapat aib kita, eh tapi kita luput membuka aib sendiri di media sosial lewat story instagram, whatsApp, bahkan cuitan di twitter. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menyembunyikan aib).” (HR Abu Dawud dan Nasa-i).
Kitalah yang menciptakan rekam jejak digital kita sendiri melalui media sosial. Media sosial merupakan tempat sosial yang banyak sekali manfaatnya tanpa batasan waktu dan tempat namun jika dimanfaatkan secara tepat bukan ajang untuk membuka aib sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari).
Bijak Bermedia Sosial
Media sosial juga dapat membuat rasa ingin tahu seseorang tinggi. Berita dapat dikemas semenarik mungkin dengan headline yang membuat penasaran, artikel dibuat semenarik mungkin ilustrasinya dan berbagai hal up to date yang membuat pengguna media sosial tertarik untuk berkomentar. Namun tidak semua hal harus dikomentari, semua kendali dan kontrol untuk mengkonsumsi yang ada di media sosial itu ada pada diri sendiri. Mana yang baik untuk dikonsumsi mana yang harus di skip.
Bahkan tak jarang ada yang suka stalking medsos orang lain karena keinginan pribadi, rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi namun hal tersebut tidak disadari kadang membawa penyakit untuk diri sendiri. Sakit hati, bawa perasaan, dan yang paling sering sekarang dialami oleh anak muda adalah overthingking. Hal tersebut contoh dari kurang kendali dari diri sendiri dalam bermedia sosial.
Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata seperti ini, “Saya telah mencari kenyamanan untuk diriku, maka saya tidak mendapatkan sesuatu yang lebih nyaman daripada meninggalkan apa yang bukan merupakan urusanku” dan “Saya menjadi lebih tenang, ketika saya tidak mengurusi yang bukan menjadi urusan saya.
Hal tersebut didukung dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Bukan sedang tidak boleh bermedia sosial namun segala halnya harus sesuai dengan batasan. Media sosial merupakan salah satu cara hablum minannas namun jangan sampai kita melupakan hablum minallah. Media sosial kita adalah milik kita yang artinya tanggung jawab kita, kegunaannya pun tanggung jawab kita, dapat bermanfaat atau menjurumuskan ke hal yang tidak baik pun tergantung tangan kita sendiri. Bermedia sosial secukupnya, jadikan media sosial ladang kebaikan seperti berdakwah bukan ladang ghibah.
Editor: An-Najmi Fikri R
























Leave a Reply