Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hubungan Haramayn dengan Nusantara

Haramayn
Sumber: www.freepik.com

Ketika mendengar Kota Aceh, apa yang terlintas di benak kita? Ya mungkin sebagian besar akan menjabarkan tentang kehidupan masyarakatnya yang terbilang agamis, tidak heran meski pemerintah telah memblokade masjid semenjak pandemi, pemerintah Aceh tetap teguh, bahwa masjid tetap harus ramai dengan catatan mematuhi protokol yang dianjurkan.

Meski masjid tetap buka, bukankah di beberapa media menyatakan bahwa Aceh adalah salah satu kota yang paling sedikit terkena si-covid? MasyaAllah. Sehingga sematan ‘Kota Agamis’ bagi Aceh memang cocok didapatnya, seperti Jogja dengan sematan ‘istimewa’-nya.

***

Sejak dulu, Aceh telah menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Timur Tengah, tidak sebatas Kesultanan Usmani saja. Aceh ternyata juga menjadlin hubungan dengan Makkah dan Madinah yang merupakan pusat keagamaan Islam. Hubungan keduanya ternyata memiliki implikasi politik bagi Aceh meskipun hubungan keduanya hanay bersifat keagamaan daripada politik.

Dalam riwayatnya tentang Kerjaan Aru, Pires mengutip sebuah surat Sultan Johor yang ditujukan kepada Sultan Aceh tentang keistimewaan penguasa Aceh yang diberikan kehormatan besar dalam bentuk menerima stempel mas Bayt al-Haram, Makkah. Selain kehormatan diberi stempel mas tersebut, sejak 1570-an Aceh telah menerima banyak ulama terkemuka dari berbagai negara secara regular.

Selain Aceh, tidak ada negara-negara yang memiliki hubungan politik dan diplomatik yang intens dengan Dinasti Usmani. Namun, sejak abad ke 17, telah banyak Negara-negara di Nusantara yang memiliki hubungan dengan Hijaz. Penguasa di Banten pernah mendapatkan kehormatan gelar dari Syarif Makkah sebagai hadiah atas berhasilnya misi  khusus yang dijalankan oleh Abd al-Qadir di Tanah Suci.

Selain mendapat gelar, ia juga menerima hadiah bendera dan pakaian penguasa Haramayn. Bahkan Abd al-Qadir harus diarak keliling Kota Banten saat Maulid Nabi.  Hubungan keduanya terus berlanjut hingga akhir abad 17.

Baca Juga  Tafsir Nusantara: Kajian Komprehensif Metodologi Tafsir

Hal ini juga didapatkan oleh Mataram, sebuah kerajaan Islam yan cukup besar di jantung Pulau Jawa. Sama seperti abd al-Qadir, beliau juga mendapat gelar dari Syarif Makkah. Menurut Daghefister, selain daerah-daerah di atas, Sultan Palembang juga pernah mendapat surat dari pemerintahan Haramayn yang dikirim melalui kapal Aceh.

***

Maka untuk menarik kesimpulan akan hubungan-hubungan yang pernah dijalin antara Timur Tengah dengan Nusantara, sejak mula bangkitnya Islam hingga abad 17 harus ditempuh beberapa fase dengan beberapa bentuk.

Pertama, dimulai dari akhir abad ke 8 hingga abad ke 12, hubungan-hubungan yang terjadi hanya seputar dunia dagang. Yang berinisiatif dalam hubungan-hubungan ini nyaris diprakarsai oleh muslim di Timur Tengah, khususnya Negara Persia dan Arab.

Dua, fase sampai akhir abad 15. Hubungan-hubungan yang dijalin semakin memiliki aspek-aspek yang luas. Pengembaraan atau sufi, kemudian mulai mengintenskan penyebaran Islam ke berbagai wilayah-wilayah di Nusantara. Di fase kedua ini, hubungan-hubungan keagamaan  serta kultural sudah terjalin sengat baik.

Tiga, dimulai pada abad 16 hingga paruh kedua abad 17. Di samping hubungan-hubungan agama, hubungan politik sudah mulai dibangun. Faktor terpenting di balik perkembangan ini ialah terjadinya peningkatan pertarungan di Kawasan Lautan India antara kekuasaan Portugis dengan Dinasti Usmani. Di masa ini, umat Islam mengambil kesempatan untuk terus menjalin hubungan agama dan politik dengan Dinasti Usmani sekaligus mencoba berperan aktif dalam perdagangan di Lautan India.

Mendekati paruh abad 17 ke dua, para penguasa Haramayn juga melakukan hubungan agama dan politik.  Umat Muslim sudah mulai banyak yang melakukan perjalanan ke Tanah Suci, sehingga terdorong keinginan untuk menjalin keilmuan antara Timur Tengah dengan Nusantara, melalui ulama-ulama Timur Tengah dengan murid-murid Jawa.  

Baca Juga  Konsep Demokrasi di Mata Mufasir Nusantara

Editor: Ananul