Berapa lama waktu yang tersisa bagi umat manusia sebelum kehancuran semesta terjadi? Sekitar 14 abad yang lalu, seorang Nabi akhir zaman mengibaratkan masa kenabiannya dengan kehancuran semesta seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Terbaru (2021), Bulletin of the Atomic Scientists memperkirakan jam kiamat (doomsday clock) tinggal menyisakan waktu seratus detik sebelum “tengah malam”.
Meski sifatnya spekulatif dan metafor, tetapi setidaknya ada 2+1 fenomena yang membuat spekulasi waktu itu terasa amat nyata. Pertama, informasi yang dimuat situs co2.earth mempertegas bahwa bumi (memang) sedang tidak baik-baik saja. Per-Agustus 2021, emisi CO2 di atmosfir bumi berada di angka 414.47 ppm (part per-million). Angka tersebut jauh dari kata aman, mengingat batas aman emisi CO2 adalah 350 ppm.
Peningkatan emisi CO2 itu membuat bumi menjadi semakin panas, yang selanjutnya berdampak pada terjadinya serangkaian bencana alam, seperti badai, kekeringan, mencairnya es di kutub, banjir, cuaca ekstrem, dan sebagainya. Diakui atau tidak, bencana-bencana itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Kedua, sejak Perang Dunia II, perang nuklir merupakan hantu petaka bagi keberlangsungan bukan hanya umat manusia, tapi juga alam semesta. Dengan tanpa rasa berdosa, negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Korea Utara, China, Pakistan, dan Iran terus berlomba mengembangkan senjata nuklir, seolah ingin menjadi aktor utama di balik percepatan gerak jarum jam kiamat.
Keterlibatan Ilahi
Dalam Who Rules the World? Noam Chomsky bahkan sampai mengatakan bahwa masih eksisnya kehidupan di jagat raya saat ini adalah semata karena keterlibatan (intervensi) Ilahi. Manusia, katanya, hanya bisa bergantung pada keterlibatan itu. Sampai kapan manusia dapat bertahan, tidak ada yang tahu.
Ketiga, jika dilihat dari kacamata agama, Al-Qur’an hampir tidak pernah menyebut secara spesifik tanda akhir zaman, apalagi mengenai ancaman semesta yang diakibatkan kerusakan lingkungan dan perang nuklir. Fenomena akhir zaman yang beriringan dengan laku-sikap umat manusia –yang sebagian besarnya sudah menyimpang dari jalan kebenaran– adalah narasi hadits.
Pembacaan atas narasi itu sedikit-banyak mempengaruhi cara pandang dan sikap sosial-keagamaan-politik umat Islam. Satu di antara sekian banyak pilihan yang diambil adalah mengikuti jejak ashabul kahfi. Alih-alih menutup celah kemungkaran –sebagaimana dilakukan Dzul Qarnain–, mereka lebih memilih menghindar dari realitas sembari menunggu sang juru selamat.
Sikap yang Tak Semestinya
Abad ke-6 Masehi, tepatnya ketika perang antara Romawi-Persia sedang memanas, banyak umat Kristiani yang menganggap bahwa dunia sebentar lagi akan menuju titik penghabisan. Mereka mencari suaka iman; mendatangi gua-gua dan hidup dalam kesederhanaan. Fred Donner dalam Muhammad and the Believers menyebut, selain untuk “menyelamatkan iman”, tindakan tersebut juga berangkat dari perasaan bahwa mereka sedang kalah di sektor sosial-politik-ekonomi.
Perasaan kalah dan tertindas itulah yang kini dialami sebagian umat Islam. Alih-alih menghadapi realitas “saat ini”, mereka lebih memilih mengutuk keadaan, menghindari realitas, dan bertumpu pada harapan tentang “masa depan” yang lebih baik. Harapan itu ada di pundak sang juru selamat (Nabi Isa as. dan Imam Mahdi). Sederhananya, ada ketakutan sekaligus harapan.
Pada waktu bersamaan, situasi ini juga mengundang Ustaz Akhir Zaman –sebutan bagi “ustaz” yang tema ceramahnya sering dikaitkan dengan fenomena akhir zaman–untuk memproduksi “tafsir spekulatif” tentang nasib umat Islam di akhir zaman. Ironisnya, mereka tak jarang melakukan reduksi makna atas ayat Al-Qur’an dan hadits, dan menggunakan sumber penafsiran yang non-otoritatif.
Abdul Muiz Amir dan Sahiron Syamsuddin dalam penelitian mutakhirnya yang berjudul “Tafsir Virtual: Karakteristik Penafsiran dalam Konten Dakwah Akhir Zaman di YouTube” sampai menyimpulkan, “narasi-narasi yang mereka representasikan lebih mengarah pada propaganda akhir zaman yang diartikulasikannya sebagai bagian dari tanda-tanda hari kiamat yang bersesuaian dengan berbagai peristiwa yang muncul saat ini” (hlm. 121).
Spirit Optimisme dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Dua pilihan sikap itu jelas berseberangan dengan spirit Islam yang menekankan pada optimisme (QS. Yusuf [12]: 87) dan tanggung jawab kemanusiaan (QS. al-Baqarah [2]: 30). Jika merujuk ke QS. Thaha [20]: 15, kiamat merupakan hal ghaib yang sengaja disembunyikan waktunya oleh Allah swt. Oleh Badiuzzaman Said Nursi, salah satu hikmah di balik tersembunyinya momen kehancuran semesta itu adalah agar manusia tidak mengalami kecemasan dan/atau ketakutan yang tidak perlu.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bahkan berpesan kepada seseorang yang di tangannya tergenggam tunas agar tetap menanam tunas tersebut meskipun ia tahu besok kiamat terjadi. Pesan tersebut mengandung makna tersirat bahwa Islam menghargai kebaikan sekecil apapun, bahkan kalaupun ia tampak tak berguna.
Optimisme dan tanggung jawab kemanusiaan itulah yang semestinya menjadi alam pikir umat Islam, dan selanjutnya dimanifestasikan dalam laku perbuatan. Umat Islam harus keluar dari belenggu kejumudan dan memainkan peran-peran strategis di tengah gelanggang peradaban. Pada waktu bersamaan, mentalitas menerabas tidak boleh lagi menjadi jiwa umat. Tanpa kedua sikap itu, umat Islam akan terus mengalami kemunduran dan ketertinggalan.
Akan tetapi, apakah harapan-harapan itu memungkinkan untuk terwujud? Atau sekadar utopia tak berdasar? Sekali lagi, bahkan jika dan hanya jika tersisa satu persen kemungkinan untuk harapan-harapan itu terwujud, menyerah bukanlah pilihan.
“Lan tarji’a al-ayyām allatī madhat”. Tidak akan kembali waktu yang telah berlalu. Masih tersisa waktu seratus detik sebelum “tengah malam”. Artinya, masih ada waktu tersisa. Segala sesuatunya masih bisa terjadi. Seperti apa takdir umat Islam di akhir zaman? Kitalah yang menentukan, bukan orang lain.
Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.